anak baru (?)
“Balik cok,“Sahutan Langit membuat Dewa dan Lintang menunduk dan melihat cowok itu dengan wajah terheran-heran.
“Turun, Lana nyuruh balik. Kita ditungguin depan kelas,“Langit berujar kembali.
Dewa dan Lintang berdecak kesal dan segera turun dari pagar yang mereka panjat, kemudian menghampiri Langit.
“Gak jadi cabut berarti? Lo tau kagak sih kita bertiga itu kan kagak ngerjain PR Bu Hana, nanti kita di seret ke lapangan lagi anjir,“jelas Lintang pada Langit.
“Sebenarnya gue baru inget kalo tadi malem gue janji kagak bolos sama Lana,”
Dewa memutar bola matanya,“Putusin.”
“Mulut lo Setan,“sarkas Langit.
“Putusin, biar gue bisa maju, anjayyyyy,“Dewa berujar lagi dan memancing amarah Langit.
“Lo berdua bakalan gue kawinin kalo sampe berantem di depan gue, KUA deket nih sekitar sini,“ucap Lintang.
“Kalian bertiga! Ngapain di sana? Mau bolos ya?“tampak seorang pria paruh baya berlari kecil ke arah mereka dengan membawa sebilah rotan.
“Buset, ada Pak Gundul, ayo buruan cabut!“selesai berujar Lintang langsung menyeret Dewa dan Langit untuk pergi ke sejauh-jauhnya agar tidak di temukan oleh guru tersebut.
Nafas mereka memburu, mereka melihat Pak Gundul sudah tak terlihat sosoknya. Pak Gundul itu sebutan yang sudah lumrah di sekolah ini untuk pria paruh baya itu.
Langit mengatur nafasnya, dari kejauhan ia sudah melihat Lana berada di depan kelasnya bersama Mizu juga Shea.
Belum sempat melangkah, telinganya sudah di tarik dan membuat Langit menjerit kesakitan.
“Ikut saya, jangan coba kabur!“ujar Pak Gundul.
“Iya Pak, aduh Pak, telinga saya sakit ini,“ringisnya.
Alhasil karena ketahuan dengan Pak Gundul, terpaksa mereka di suruh menyapu lapangan basket yang di penuhi dedaunan kering. Para siswa lain terkekeh melihat mereka yang di hukum yang entah ke berapa kalinya.
“Semangat!“suara itu membuyarkan lamunan Langit. Rupanya Lana dan Mizu juga Shea sedang mengamati mereka.
Mizu tau kalo ketiga lelaki nakal itu pasti tengah kehausan di tengah teriknya sinar matahari, maka dari itu Mizu langsung mengusap lehernya sembari meneguk es jeruknya dengan nikmat.
“Anak monyet, bukannya nawarin malah di gituin kitanya,“celetuk Lintang.
“Indah banget gue punya sepupu kayak setan gitu,“ujar Langit.