Kejadian sebenarnya

Saka tengah memasang badan di depan kelas Rakandra, Abian dan Arjuna. Hanya seorang diri tanpa komplotannya satu pun.

“Keluar lo bertiga!“teriakan Saka membuat siswa lain ketakutan.

Ketiga pria yang sedari tadi asik sendiri berbalik ketika Saka memanggil mereka.

“Ngapain sih si jamet?“ujar Bian menyenggol Arjuna dengan sikutnya pelan.

“Ayo keluar,“Rakandra mengkode Bian dan Arjuna untuk segera beranjak menghampiri Saka.

Abian menatap Saka tajam, ia benar-benar tak suka kehadiran lelaki ini,“Ngapain sih lo?“ujarnya dengan nada kesal.

“Lo bertiga kok bisa sedeket itu sama Kala? Lo gak tau dia itu siapa? Dia P-A-C-A-R gue,“ujar Saka dengah penuh penekanan.

“Ya gue sih tau kalo lo pacarnya,”

“Terus?”

“Terus, terus, kayak tukang parkir aja,“sewot Arjuna.

“Jadi menurut lo muka gue mirip tukang parkir? Iya?!”

“Gue gak bilang gitu ya, lo sendiri yang mendetailkan,“ucap Arjuna.

Rakandra memutar bola matanya,“Kalo Kala deket sama kita, lo juga gak berhak ngelarang, lo siapa? Abangnya bukan, keluarga juga bukan, jangan pikir karena lo pacarnya lo bisa ngatur dia seenaknya.”

“Dibayar pake apa lo sama Kala?”

Abian mengernyitkan Alisnya,“Maksud lo apaan ngomong kayak gitu?”

“Kala jual diri ya, makanya lo berdua belain dia? Gila tu cewek,”

Bugh!

Satu bogeman melayang tepat di pipi kanan Saka. Abian menatap lelaki itu penuh emosi yang membara. Ia benar-benar tak segan memukul lelaki itu di depan kelasnya yang membuat para siswa lain berteriak.

“COBA ULANGIN PERKATAAN LO!“bentakkan Abian membuat semuanya tersenyap, Saka meringis lalu memberikan senyum miring padanya.

“Lo kira lo doang yang bisa nonjok? Gue juga bisa kali,”

Bugh!

Pukulan itu mengenai perut Abian, begitu cepat sehingga ia tak bisa menghindar. Arjuna segera membantu Abian yang tersungkur akibat pukulan keras dari Saka.

Sret!

Rakandra menarik kerah Saka,“Mulut lo gak pernah sekolah, ya? Kalo cewek udah gak nyaman sama lo artinya lo harus tau di mana letak masalahnya, bukan ngatain kayak gitu! Kalo lo suka sama Kala lo gak akan bilang kayak gitu, brengsek lo emang, met!”

Bugh! Bugh!

Adu jotos pun terjadi antara mereka. Siswa lain mulai melerai. Sempat kewalahan namun keributan itu segera berakhir ketika para guru mulai bertindak saat itu.