makan malam

Alea masih terngiang tentang chat yang Gabriel kirim, terlihat sederhana namun tersimpan luka.

Ia tak mampu melawan rasa gemuruh yang menghantuinya, mungkin Alea juga rindu tentang kebersamaan antara mereka.

Perlahan ia menuruni anak tangga, atensinya teralih pada sosok Gabriel yang kini tengah menyusun makanan di atas meja. Terlihat lezat dan menggiurkan.

“Eros, cepetan bawa makanannya,“teriak Gabriel.

Suasana riuh yang dibuat okeh kedua cowok ini tiba-tiba senyap ketika melihat Alea menghampiri meja makan lalu duduk, tanpa mengatakan sepatah kata pun.

“Alea...,”

Eros dan Gabriel mematung di tempat, mereka bingung harus bereaksi apa, rasa haru dan senang bercampur jadi satu. Mereka langsung duduk di sebelah kanan dan kiri Alea.

Tak tanggung-tanggung kedua berebut mengambilkan Alea lauk pauk yang ada di atas meja.

“Alea harus makan yang banyak!“ucap Eros antusias.

“Makan sayur juga, supaya sehat,“ujar Gabriel.

Alea menelan suapan pertamanya, rasanya sedikit hambar namun Alea tak protes.

“Enak?“tanya Eros.

Alea membalas dengan anggukan singkat.

“Alea, kayaknya agak hambar deh...,“ujar Gabriel.

“Nah kan! Gue udah bilang kalo garemnya kedikitan, lo gak percaya sama gue,“ujar Eros protes.

“Apaan kok salah gue, kan lo yang bilang kalo udah oke rasanya,“Gabriel tak mau kalah.

“Makan pun gue harus denger kalian adu bacot?“ujar Alea.

“Maafin abang ya,”

“Alea, sering-sering gini ya,“ujar Eros.

”.......”

“Alea, gue bahagia banget lo bisa makan bareng sama kita,“ucap Gabriel lembut.

Tak ada sepatah kata yang keluar dari bibir Alea, yang ada hanya rasa sesak di hati kecilnya.