Papah Datang

Kala memeluk Papahnya dengan erat. Rasanya rindu sekali. Dika itu tipe ayah yang selalu ingin dekat dengan anaknya, namun karena terhalang ia jadi susah untuk lebih dekat. Dari dulu sampai sekarang, Kala tak pernah merasakan kurangnya kasih sayang dari sosok ayah sebab Dika memang seperhatian itu pada putrinya.

Di sisi lain Raka dan Bian tengah tersenyum melihat kehangatan keluarga kecil ini, rasanya beruntung sekali memiliki ayah seperti Dika. Mereka pernah tau rasa punya keluarga namun rasa itu seolah bayangan, karena dari usia 6 tahun mereka sudah tak memiliki orang tua.

Dika menyuruh Raka dan Bian mendekat dan memberikan kode untuk memeluknya juga. Keduanya ragu namun Dika membuat rasa ragu itu hilang saat tersenyum.

“Sekarang, Papah udah punya tiga anak, dan Kala harus terima itu, ya. Raka dan Bian itu akan selalu jadi bagian dari kita,“ucap Dika dengan lembut.

..........

Setelah acara peluk-pelukan tadi, ketiga orang ini jadi canggung. Raka, Bian dan Kala berusaha menyibukkan diri mereka masing-masing.

“Gimana sekolah kalian?“tanya Dika.

“Baik Pah,“mereka serentak menjawab.

“Kalian gak berantem kan di sekolah? Kaku banget ngomongnya,“goda Dika diiringi kekehan.

“Berantem sih nggak pah, cuman ni dua orang suka ngeselin,”

“Putus dulu makanya sama si jamet,“kata Bian yang diangguki oleh Raka.

“Nah iya Pah, Papah kan pernah cerita kalo gak suka sama si jamet tapi Kala masih aja pacaran,“Raka mulai memanas-manasi.

“Papah kira kamu udah kapok sama dia gara gara ban bocor di tengah jalan,“ucap Dika.

“KOK PAPAH TAU?”

“Abang kamu yang cerita,“jawab Dika.

Raka dan Bian langsung membuang muka ke arah lain.

“Yaudah sih kalo kamu masih mau pacaran sama dia gak papa, Papah sih gak terlalu ngelarang yang penting sekolah gak terganggu, oh iya, sekarang kalo kemana-mana sama abang, jangan sendiri.“Dika menjeda kalimatnya sejenak, menatap Kala, Bian dan Raka bergantian,“Papah bolehin bawa mobil, soalnya mang asep mau pulang kampung jadi mau gak mau berangkat sendiri.”

“Biar aku Pah yang nyetir,“Raka menawarkan diri.

“Oke, besok Kala harus berangkat sama abang ya?”

“Iya Pah,“Kala mengiyakan. Ia tak bisa ambil pusing.

Raka dan Bian bersorak dalam hati.

“Bawa mobilnya jangan ngebut, awas aja!“ancam Kala.

“Iya, iya,”