Pindah
Aura sibuk dengan pikirannya sambil memandangi hamparan rumput ilalang yang menguning dipinggiran jalan. Kata Mamah mereka akan menempati rumah almarhumah nenek mereka. Perjalanan yang mereka tempuh lumayan jauh dari perkotaan, biasanya ia mendengar bunyi bising yang memekikkan telinga atau berdiam diri di mobil karena kemacetan panjang. Sekarang berbeda, jalanan yang mereka lewati cukup mulus dan lumayan sepi, hanya satu atau dua kendaraan beroda empat dan beroda dua yang lalu lalang.
Ia tak begitu tau bagaimanakah rumah yang akan mereka tempati, meskipun sebenarnya Aura sempat tinggal dua tahun di sana, namun ingatannya tak terlalu jelas tentang rumah itu. Yang Aura ingat, hanya segerombolan anak lelaki yang selalu mengajaknya bermain dari pagi hingga menjelang sore di lapangan yang berada tak jauh dari rumah itu.
Aura mencoba mengingat-ngingat namun hanya sekelebat ingatan yang ia dapat.
“Kak, Elis takut nanti malah diejekin di sana,“rengek adik perempuannya itu.
“Kalo lo gak aneh-aneh ya gak bakalan di ejek, Elis,“ujar Aura.
“Kak Aura kan pernah ke daerah sini, Kak Aura ada kenalan gak sih? Temen cewek atau siapa gitu?“tanya Elis dengan ekspresi penuh tanya.
“Dulu sih ada, tapi gue setengah lupa, jadi ganteng kali mereka,“celetuknya asal.
“COWOK!”
“Sakit, Elis,“Aura merasa gendang telinga hampir meledak karena teriakan adiknya.
“Ya maaf, Elis kan kaget,”
“Ayo turun, kita udah sampe nih,“ujar Mamah mengintruksi.
Ternyata banyak yang berubah di sini, dulu rumah penduduk tak sepadat ini seingatnya, sekarang... Hampir tak ada celah lagi karena rumah mereka hampir berdempetan satu sama lain.