Ruang BK
Kala tak berani menengok ke arah Saka. Ia memilih diam dan mendengar nasehat yang guru katakan. Ketika tau Kala sedang gugup, Arjuna mengambil tangan Kala dan membawanya ke genggamannya, tak ada yang tau tentang itu, semua orang terfokus pada masalah yang terjadi semalam.
Arjuna mengusap punggung tangan Kala dengan ibu jarinya dengan lembut. Ia tersenyum, karena tangan Kala sangat kecil, ia jadi teringat ketika Kala pernah mencubit pinggangnya ketika menjahili gadis itu.
Kala menatap Arjuna dengan wajah penuh tanya, apakah maksud dari tindakan lelaki ini.
“Fokus, Kala,“ucap lelaki itu pelan dengan suara beratnya.
“Anak saya sampai luka seperti ini, pokoknya saya ga mau tau kalian harus bayar biaya obat-obatannya,“ucap Ibu Saka dengan wajah kesal.
“Bagaimana Pak Dika?”
“Ya sudah, tapi bilang sama anak Ibu jangan ganggu anak perempuan saya lagi, saya gak suka anak perempuan saya di sakiti, apalagi dikatai jual diri. Saya bakalan bayar sesegera mungkin, ini no. Hp saya, anda bisa langsung hubungi saya,“Dika mengulurkan sebuah kertas dengan 12 barisan nomor tertera di sana.
“Oke, saya akan jaga anak saya untuk tidak dekat lagi dengan anak anda. Saka, kamu jangan pacaran lagi sama dia! Mamah sudah bilang kamu itu cocoknya sama neneng, kenapa masih ngeyel!“ujarnya.
“Nina Mah,”
“Ah sama aja,”
“Baiklah, saya harap kalian berempat damai dan gak akan mengulangin hal ini ya, Saka kamu kan kakak kelas dan harusnya fokus belajar bukan pacaran, dan Raka, Abian, Arjuna kalau menyelesaikan masalah jangan pakaikekerasan, ayo minta maaf,”
“Tapi kan—,”
“Minta maaf aja,“ujar Papah sambil tersenyum.
Akhirnya mereka saling berjabat tangan, meski terlihat dipaksakan namun mereka harus melakukan ini. Harap-harap setelah ini tak ada lagi tengkar antara mereka.
..........
“Nelpon siapa Jun?“tanya Abian.
“Oh ini, gue mau laporan sama bokap kalo masalahnya udah kelar, jadi gak usah ke sini,“jawab Arjuna.
Abian hanya ber oh ria.
“Cantik ya guru kamu,“goda Papah pada Kala, ia tau anak gadisnya itu pasti langsung nyolot kalo Papah genit dengan perempuan lain kecuali Mamahnya.
“Papah!”
Dika tertawa, ia mengacak-acak rambut putrinya,“Hahahah, Papah gak suka kok, tapi gak tau nanti.”
“Nah kan....,”
“Yaudah Papah pulang ya, baik-baik kamu sama abang di sekolah. Oh iya Arjuna....,”
“Iya ada apa Om?”
“Kamu suka sama Kala ya?”
“Papah apaan?!”
“Kala salting Pah,“ujar Raka.
“Papah ke kantor ya, bentar lagi Papah mau rapat, bye! Nanti Papah pulang cepet!” Lelaki itu berlari kecil sambil melambaikan tangannya ke arah mereka.