Sebuah Pertemuan
Aura mengeratkan hodienya, hari ini entah kenapa langit begitu suram. Padahal niatnya sore ini adalah berjalan-jalan menyusuri desan bersama Elis, namun ternyata rencananya gagal. Ah sudahlah, mengingat itu Aura jadi kesal sekarang.
Dari kejauhan ia sudah melihat sebuah warung yang cukup sederhana di bawah pohon mangga yang berbuah lebat. Keadaan gelap seperti ini, terpaksa membuat warung itu menyalakan lampu. Aura segera berlari kecil dan mendekat ke arah sana.
“Mau beli apa neng?“tanya Ibu itu dengan antusias. Penampilannya wanita ini cukup cetar, dengan baju sedikit ketat dan lipstik merah membara. Aura tersenyum tipis,“Saya mau beli telur 10 biji, minyaknya satu liter, terus—eh bentar bu saya lupa.”
“Ealah si eneng,“Ibu itu tertawa pelan karena melihat Aura yang kini kebingungan dengan apa yang Mamahnya minta belikan tadi.
Disamping kesibukannya dan sedikit omelan dari Mamah membuatnya tak memperhatikan apa yang di depannya.
Dug!
Aura ingin berjalan kekiri namun ternyata karena tidak fokus, ia malah menabrak seseorang.
“So—sorry,“ujarnya gugup. Orang itu tak mengubris, ia hanya berlalu seolah tak terjadi apa pun barusan. Huft...untunglah, setidaknya Aura tidak kena marah dua kali, ya kan?
“Gula sama kopi nya Ci, kayak biasa,”
“Siap, sebentar ya,“ujarnya. Wanita ini dikenal dengan nama Ci Leni.
Aura membalikkan badannya setelah beberapa menit mendengar omelan Mama. Ya tepatnya bukan omelan sih, cuman sedikit cemarah gratis dari mamah.
Ci Leni belum muncul lagi, entah apa yang dilakukan wanita itu di dalam.
Ia melirik ke arah pria yang tengah duduk di kursi yang memang tersedia di sana. Aura berdehem pelan, memecah keheningan diantara mereka.
“Maaf ya jadi nunggu lama, tadi cici ke dapur matiin kompor, ini nak ganteng kopi sama gulanya,“Ci Leni memberikan kresek hitam yang di dalam berisi guka dan kopi pesanan pria itu.
“Makasih ci,“ucapnya, lalu pergi tanpa menggubris adanya Aura.
“Neng Aura dah inget belum mau beli apa lagi?”
Aura terbangun dari lamunannya.
“Bawang merahnya setengah kilo, hehe,“jawab Aura.
Ci Leni mengangguk paham dan langsung bergegas menimbang bawang dengan timbangan yang terlihat berkarat.