makan malam

Permintaan Gabriel seolah terus memutar di benaknya. Alea merasakan gemuruh yang berasal dari hatinya, suasana aneh ia rasakan.

Terbayang olehnya akan seberapa canggung dirinya jika semeja makan bersama dua orang yang kini ia anggap asing sekali.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, ia melihat Gabriel tengah menyusun piring di atas meja dengan rapi.

Dengan langkah pelan ia mendekati kakaknya, Gabriel belum menyadari kehadiran Alea. Cowok itu masih sibuk menyusun piring dan sendok.

Tanpa suara, Alea duduk di kursi. Gabriel yang sedari asik dengan kegiataannya langsung mematung melihat Alea duduk di meja makan tepat di depan.

“Alea...,”

Alea menatap Gabriel,“Kenapa?”

Cowok itu tersenyum dan segera menggelengkan kepalanya.

“Makanannya udah—,“Eros tak kalah kaget. Cowok itu hampir menumpahkan satu panci sup buatan Gabriel.

Alea jadi bingung dengan keberadaannya, ia merasa tak enak dengan suasana ini.

Eros segera menaruh makanan di meja dengan cepat dan begitu bersemangat. Gabriel sampai heran dibuatnya.

“Pelan-pelan lo bawanya, nanti jatoh,“tegur Gabriel.

“Alea mau makan apa? Ini semua buatan gue tapi dibantu juga sama Eros, atau lo mau gue pesenin makanan yang lai—,”

“Gak usah, ini aja,“terdengar datar namun Gabriel senang atas jawaban Alea.

“Alea, suka yang mana? Abang ambilin ya,“ujar Eros.

Alea hanya diam dan Eros mengambilkan beberapa lauk untuk adiknya. Gabriel jadi gugup sekarang, ia takut masakannya tak enak dan membuat makan bersama ini jad kacau balau.

“Alea mau nambah lagi?“tawar Eros.

“Gue bisa sendiri, lo juga makan,“ujar Alea tanpa menatap Eros.

“Oke!”

Malam penuh kecanggungan, juga penuh kebahagian untuk dua cowok ini.

Alea memulai suapan pertamanya, rasanya lumayan enak walau sedikit hambar. Sedari tadi Alea tak ingin menatap Eros dan Gabriel, kenapa? Matanya sudah berkaca-kaca, ia tidak mengerti kenapa ia jadi seemosional ini, padahal ia jarang menangis.

“Alea, maaf ya kalo makanannya gak enak, nanti abang belajar lagi,“ucap Gabriel sambil terkekeh.

“Semua makanan jadi enak banget, kalo ada Alea,“celetuk Eros.

Tak!

“Gue udah selesai, makasih makanannya,”

Setelah mengucapkan itu Alea beranjak dari sana. Bukannya kenapa, tapi mendengar semua perkataan dua orang itu, dadanya jadi sesak dan susah menelan makanannya.