“Lo mau ke mana?“tanya Lintang yang kini menahan lengan cowok itu.
“Mau ke toilet, posesif amat sih lo, bini gue juga bukan,“tutur langit.
“Cepet,“ujar Lintang.
“Iya,”
Suara bising membuat Langit tak nyaman dengan suasana yang ada di ruangan ini, apalagi beberapa gadis sempat banyak yang mengerumuni. Cowok itu menyesal karena tak menolak ajakan kedua temannya ini, Dewa dan Lintang.
Ia memutar keran wastafel dan segera membasuh wajahnya, rasanya begitu segar. Alih alih sedang bercermin, Langit terusik akibat suara bentakkan dari toilet yang berada di sebelahnya.
Awalnya ia tak peduli dan melanjutkan aksi pamer wajahnya di cermin, namun suara tamparan membuatnya tersentak dan mulai penasaran dengan apa yang terjadi di sana.
......
“Lo ngapain sama Dika? Pakai meluk meluk segala, lo mau selingkuh?“tanya Hema dengan nada membentak.
“Terserah lo deh, gue udah capek jelasin tapi lo masih aja gak percaya sama gue,“jawab Valda dengan nada tegasnya.
Hema menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia merogoh ponselnya dan menampilkan sebuah dua orang yang sedang berciuman.
“I-itu...,”
“Ini apa? Lo ciuman sama Dika di cafe, lo selingkuh kan?“Hema mengepalkan tangannya hingga uratnya terlihat.
“JAWAB!“kali ini bentakkan Hema membuat Valda menciut.
Gadis itu gemetar dan ketakutan saat itu juga. Sebenarnya sudah lama Valda ingin memutuskan hubungannya ini dengan Hema, tapi cowok itu selalu mengelak dan mengancam Valda dengan berbagai hal agar tak di putuskan. Lalu setelah ada Dika, Valda jadi sedikit tenang dan kerap diam-diam bersamaan dengan selingkuhannya itu.
Naas ternyata hubungan keduanya ketahuan oleh Hema dan membuat cowok itu marah besar.
“Gue udah bosen sama lo,“ucap Valda dengan nada ketakutan.
Hema tertawa getir mendengar penuturan dari Valda,“Lo masih punya gue, Val. Dika udah gue beresin karena dia udah berani deketin lo.”
Yang tadinya Valda menunduk, gadis itu langsung menatap kedua iris coklat milik Hema dengan tatapan terkejut.
“L-lo habis ngapain dia, Hema?!“bentak Valda dengan berderai air mata.
Hema menundukkan tubuhnya, berusaha menatap Valda lebih dekat. Cowok itu tersenyum, kemudian mengangkat perlahan tangannya dan membuat gerakan seperti memotong lehernya dengan jari telunjuk. Valda paham dengan maknanya langsung histeris dalam hitungan detik.
“LO GILA, BRENGSEK LO HEMA! COWOK PSIKOPAT! DASAR BAJINGAN! COWOK SETAN! ANJ—,”
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di ruangan. Tamparan keras dari Hema berhasil membuat cetakan merah di pipi mulus Valda.
“Lo gak akan pernah lepas dari gue Val, kemana pun lo pergi gue akan tetap cari lo,“peringat Hema pada Valda.
“Hema lo!“suara Valda tertahan saat itu.
“Apa? Mau gue tampar lagi?”
Baru saja Hema ingin melayangkan satu tamparan lagi untuk Valda aksinya langsung di cekal seseorang. Sipa lagi kalau bukan Langit, orang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka dan tergerak untuk ikut campur dalam urusan kedua insan ini.
“Kalo sama cewek jangan kasar dong bro,“ujar Langit.
Valda terkejut akan kehadiran sosok Langit yang tiba-tiba datang dan menolongnya dari perlakuan kasar Hema.
“Lo siapa? Selingkuhan dia juga?“tanya Hema dengan senyum smirknya.
Langit tersenyum,“Gue cuman gak sengaja denger lo berantem sama dia dan gue sebagai orang yang punya hati jelas gak bisa biarin lo nyakitin perempuan, bro dewasa dong, kalo ada masalah bicarain baik-baik jangan main fisik.”
“Lo siapa sih? Ceramah ngang gong ngang ngong, kalo lo gak tau masalahnya mending cabut!“perintah Hema.
“Gak bisa, gue gak bisa biarin bajingan kayak lo,“tutur Langit.
Valda merasa ada getaran yang membuncah dalam dirinya. Langit benar-benar membuatnya terpukau dalam satu waktu, perhatian cowok itu berhasil membuat Valda nyaman.
“Lo ngajak ribut?“tantang Hema.
“Ayok aja sih, gue jarang ribut sama orang tapi karena lo maksa, gue bakal ladenin,“Langit memamerkan otot-otot lengannya pada Hema. Laki-laki itu sedikit ciut karena proporsi tubuh langit yang terlihat atletis.
Hema menggeram dan langsung pergi dari tempat itu. Valda merasakan lega walau ia tau Hema tak akan tinggal diam.
Langit memastikan Hema benar-benar pergi, atensinya beralih pada Valda yang masih gemetaran di sampingnya.
“Cowok lo udah cabut, mending lo pulang, tempat ini bahaya,“ucap Langit.
“Anterin,“ujarnya pada Langit.
“Gak bisa, atau mau gue pesenin taxi online?“tawar Langit.
“Gak mau, gue mau pulang sama lo,“kukuh Valda.
“Gue gak bisa, lo gak budek kan? Besok ke THT deh kalo beneran budek ya,”
“Gue takut kalo Hema ngikutin gue lagi,“cicit Valda.
“Ya lo telpon orang rumah lo biar di jemput,“saran Langit.
Valda menggeleng,” Orang rumah semuanya pasti udah tidur.”
“Yaudah taxi online,”
“Kali ini aja.....gue masih gemeteran gara-gara Hema,“ucap Valda memelas.
“Ck! Oke, gue anter,”
yes batin Valda.