alkanaaaa

Malam itu Gabriel marah, ia pergi menyusul Alea dan menyeret Alea untuk segera pulang. Sempat terjadi perdebatan antara keduanya, beberapa orang di malam itu menyaksikan pertikaian hebat antara adik dan kakak.

Semalaman Eros tak tidur karena teringat perkataan Alea pada malam itu.

“Mamah di luar sana lagi main sama cowok lain itu gara-gara siapa? Kalian kan? Papah gak ada gara-gara siapa? Kalian juga, mikir lo berdua...gimana beratnya gue hidup sekarang. Kalo gue boleh milih, gue gak akan mau jadi adek lo,”

Eros mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya soal Mamahnya, dia dan Gabriel sudah lama tahu, namun mereka tak ingin Alea semakin sedih, dari dulu mereka terus berusaha agar Alea tak mengetahui hal itu.

Tadi malam jujur ia takut jika Gabriel main fisik karena amarah yang memuncak saat itu, syukur ternyata Gabriel masih bisa mengontrol emosinya.

Eros merasakan cairan kental mengalir dari hidungnya, sesegera mungkin lelaki itu berlari ke toilet dan menghentikan mimisannya. Akhir-akhir ini dirinya memang sering mimisan secara tiba-tiba dan kadang susah untuk menghentikan pendarahannya.

......

Alea masih marah. Kejadian tadi malam membuatnya merasa bahwa semesta tak pernah adil padanya. Sebenarnya... sebelum Gabriel dan Eros datang, ia dikejutkan pada sosok lelaki yang jelas ia kenal juga ada di sana. Raja, lelaki itu tengah duduk di sisi jalan raya.

Alea juga bingung kenapa Raja hadir pada malam itu, bahkan juga menjadi saksi pertikaian antara dia dan kakaknya. Entah apa yang akan Raja pikirkan saat melihatnya malam itu.

“Argh! Kenapa jadi mikirin Raja!“Alea menggelengkan kepalanya.

Ting!

Nafas Alea tercekat melihat sebuah notifikasi dari seseorang.

“Raja...”

Aura mengeratkan hodienya, hari ini entah kenapa langit begitu suram. Padahal niatnya sore ini adalah berjalan-jalan menyusuri desan bersama Elis, namun ternyata rencananya gagal. Ah sudahlah, mengingat itu Aura jadi kesal sekarang.

Dari kejauhan ia sudah melihat sebuah warung yang cukup sederhana di bawah pohon mangga yang berbuah lebat. Keadaan gelap seperti ini, terpaksa membuat warung itu menyalakan lampu. Aura segera berlari kecil dan mendekat ke arah sana.

“Mau beli apa neng?“tanya Ibu itu dengan antusias. Penampilannya wanita ini cukup cetar, dengan baju sedikit ketat dan lipstik merah membara. Aura tersenyum tipis,“Saya mau beli telur 10 biji, minyaknya satu liter, terus—eh bentar bu saya lupa.”

“Ealah si eneng,“Ibu itu tertawa pelan karena melihat Aura yang kini kebingungan dengan apa yang Mamahnya minta belikan tadi.

Disamping kesibukannya dan sedikit omelan dari Mamah membuatnya tak memperhatikan apa yang di depannya.

Dug!

Aura ingin berjalan kekiri namun ternyata karena tidak fokus, ia malah menabrak seseorang.

“So—sorry,“ujarnya gugup. Orang itu tak mengubris, ia hanya berlalu seolah tak terjadi apa pun barusan. Huft...untunglah, setidaknya Aura tidak kena marah dua kali, ya kan?

“Gula sama kopi nya Ci, kayak biasa,”

“Siap, sebentar ya,“ujarnya. Wanita ini dikenal dengan nama Ci Leni.

Aura membalikkan badannya setelah beberapa menit mendengar omelan Mama. Ya tepatnya bukan omelan sih, cuman sedikit cemarah gratis dari mamah.

Ci Leni belum muncul lagi, entah apa yang dilakukan wanita itu di dalam.

Ia melirik ke arah pria yang tengah duduk di kursi yang memang tersedia di sana. Aura berdehem pelan, memecah keheningan diantara mereka.

“Maaf ya jadi nunggu lama, tadi cici ke dapur matiin kompor, ini nak ganteng kopi sama gulanya,“Ci Leni memberikan kresek hitam yang di dalam berisi guka dan kopi pesanan pria itu.

“Makasih ci,“ucapnya, lalu pergi tanpa menggubris adanya Aura.

“Neng Aura dah inget belum mau beli apa lagi?”

Aura terbangun dari lamunannya.

“Bawang merahnya setengah kilo, hehe,“jawab Aura.

Ci Leni mengangguk paham dan langsung bergegas menimbang bawang dengan timbangan yang terlihat berkarat.

Aura sibuk dengan pikirannya sambil memandangi hamparan rumput ilalang yang menguning dipinggiran jalan. Kata Mamah mereka akan menempati rumah almarhumah nenek mereka. Perjalanan yang mereka tempuh lumayan jauh dari perkotaan, biasanya ia mendengar bunyi bising yang memekikkan telinga atau berdiam diri di mobil karena kemacetan panjang. Sekarang berbeda, jalanan yang mereka lewati cukup mulus dan lumayan sepi, hanya satu atau dua kendaraan beroda empat dan beroda dua yang lalu lalang.

Ia tak begitu tau bagaimanakah rumah yang akan mereka tempati, meskipun sebenarnya Aura sempat tinggal dua tahun di sana, namun ingatannya tak terlalu jelas tentang rumah itu. Yang Aura ingat, hanya segerombolan anak lelaki yang selalu mengajaknya bermain dari pagi hingga menjelang sore di lapangan yang berada tak jauh dari rumah itu.

Aura mencoba mengingat-ngingat namun hanya sekelebat ingatan yang ia dapat.

“Kak, Elis takut nanti malah diejekin di sana,“rengek adik perempuannya itu.

“Kalo lo gak aneh-aneh ya gak bakalan di ejek, Elis,“ujar Aura.

“Kak Aura kan pernah ke daerah sini, Kak Aura ada kenalan gak sih? Temen cewek atau siapa gitu?“tanya Elis dengan ekspresi penuh tanya.

“Dulu sih ada, tapi gue setengah lupa, jadi ganteng kali mereka,“celetuknya asal.

“COWOK!”

“Sakit, Elis,“Aura merasa gendang telinga hampir meledak karena teriakan adiknya.

“Ya maaf, Elis kan kaget,”

“Ayo turun, kita udah sampe nih,“ujar Mamah mengintruksi.

Ternyata banyak yang berubah di sini, dulu rumah penduduk tak sepadat ini seingatnya, sekarang... Hampir tak ada celah lagi karena rumah mereka hampir berdempetan satu sama lain.

Kemarin beli seblak jaroh mmsnsjahwbzvsiwidbxkodebd bdjdjdieejv