alkanaaaa

“Balik cok,“Sahutan Langit membuat Dewa dan Lintang menunduk dan melihat cowok itu dengan wajah terheran-heran.

“Turun, Lana nyuruh balik. Kita ditungguin depan kelas,“Langit berujar kembali.

Dewa dan Lintang berdecak kesal dan segera turun dari pagar yang mereka panjat, kemudian menghampiri Langit.

“Gak jadi cabut berarti? Lo tau kagak sih kita bertiga itu kan kagak ngerjain PR Bu Hana, nanti kita di seret ke lapangan lagi anjir,“jelas Lintang pada Langit.

“Sebenarnya gue baru inget kalo tadi malem gue janji kagak bolos sama Lana,”

Dewa memutar bola matanya,“Putusin.”

“Mulut lo Setan,“sarkas Langit.

“Putusin, biar gue bisa maju, anjayyyyy,“Dewa berujar lagi dan memancing amarah Langit.

“Lo berdua bakalan gue kawinin kalo sampe berantem di depan gue, KUA deket nih sekitar sini,“ucap Lintang.

“Kalian bertiga! Ngapain di sana? Mau bolos ya?“tampak seorang pria paruh baya berlari kecil ke arah mereka dengan membawa sebilah rotan.

“Buset, ada Pak Gundul, ayo buruan cabut!“selesai berujar Lintang langsung menyeret Dewa dan Langit untuk pergi ke sejauh-jauhnya agar tidak di temukan oleh guru tersebut.

Nafas mereka memburu, mereka melihat Pak Gundul sudah tak terlihat sosoknya. Pak Gundul itu sebutan yang sudah lumrah di sekolah ini untuk pria paruh baya itu.

Langit mengatur nafasnya, dari kejauhan ia sudah melihat Lana berada di depan kelasnya bersama Mizu juga Shea.

Belum sempat melangkah, telinganya sudah di tarik dan membuat Langit menjerit kesakitan.

“Ikut saya, jangan coba kabur!“ujar Pak Gundul.

“Iya Pak, aduh Pak, telinga saya sakit ini,“ringisnya.

Alhasil karena ketahuan dengan Pak Gundul, terpaksa mereka di suruh menyapu lapangan basket yang di penuhi dedaunan kering. Para siswa lain terkekeh melihat mereka yang di hukum yang entah ke berapa kalinya.

“Semangat!“suara itu membuyarkan lamunan Langit. Rupanya Lana dan Mizu juga Shea sedang mengamati mereka.

Mizu tau kalo ketiga lelaki nakal itu pasti tengah kehausan di tengah teriknya sinar matahari, maka dari itu Mizu langsung mengusap lehernya sembari meneguk es jeruknya dengan nikmat.

“Anak monyet, bukannya nawarin malah di gituin kitanya,“celetuk Lintang.

“Indah banget gue punya sepupu kayak setan gitu,“ujar Langit.

“Balik cok,“Sahutan Langit membuat Dewa dan Lintang menunduk dan melihat cowok itu dengan wajah terheran-heran.

“Turun, Lana nyuruh balik. Kita ditungguin depan kelas,“Langit berujar kembali.

Dewa dan Lintang berdecak kesal dan segera turun dari pagar yang mereka panjat, kemudian menghampiri Langit.

“Gak jadi cabut berarti? Lo tau kagak sih kita bertiga itu kan kagak ngerjain PR Bu Hana, nanti kita di seret ke lapangan lagi anjir,“jelas Lintang pada Langit.

“Sebenarnya gue baru inget kalo tadi malem gue janji kagak bolos sama Lana,”

Dewa memutar bola matanya,“Putusin.”

“Mulut lo Setan,“sarkas Langit.

“Putusin, biar gue bisa maju, anjayyyyy,“Dewa berujar lagi dan memancing amarah Langit.

“Lo berdua bakalan gue kawinin kalo sampe berantem di depan gue, KUA deket nih sekitar sini,“ucap Lintang.

“Kalian bertiga! Ngapain di sana? Mau bolos ya?“tampak seorang pria paruh baya berlari kecil ke arah mereka dengan membawa sebilah rotan.

“Buset, ada Pak Gundul, ayo buruan cabut!“selesai berujar Lintang langsung menyeret Dewa dan Langit untuk pergi ke sejauh-jauhnya agar tidak di temukan oleh guru tersebut.

Nafas mereka memburu, mereka melihat Pak Gundul sudah tak terlihat sosoknya. Pak Gundul itu sebutan yang sudah lumrah di sekolah ini untuk pria paruh baya itu.

Langit mengatur nafasnya, dari kejauhan ia sudah melihat Lana berada di depan kelasnya bersama Mizu juga Shea.

Belum sempat melangkah, telinganya sudah di tarik dan membuat Langit menjerit kesakitan.

“Ikut saya, jangan coba kabur!“ujar Pak Gundul.

“Iya Pak, aduh Pak, telinga saya sakit ini,“ringisnya.

Alhasil karena ketahuan dengan Pak Gundul, terpaksa mereka di suruh menyapu lapangan basket yang di penuhi dedaunan kering. Para siswa lain terkekeh melihat mereka yang di hukum yang entah ke berapa kalinya.

“Semangat!“suara itu membuyarkan lamunan Langit. Rupanya Lana dan Mizu juga Shea sedang mengamati mereka.

Mizu tau kalo ketiga lelaki nakal itu pasti tengah kehausan di tengah teriknya sinar matahari, maka dari itu Mizu langsung mengusap lehernya sembari meneguk es jeruknya dengan nikmat.

“Anak monyet, bukannya nawarin malah di gituin kitanya,“celetuk Lintang.

“Indah banget gue punya sepupu kayak setan gitu,“ujar Langit.

Kala tak berani menengok ke arah Saka. Ia memilih diam dan mendengar nasehat yang guru katakan. Ketika tau Kala sedang gugup, Arjuna mengambil tangan Kala dan membawanya ke genggamannya, tak ada yang tau tentang itu, semua orang terfokus pada masalah yang terjadi semalam.

Arjuna mengusap punggung tangan Kala dengan ibu jarinya dengan lembut. Ia tersenyum, karena tangan Kala sangat kecil, ia jadi teringat ketika Kala pernah mencubit pinggangnya ketika menjahili gadis itu.

Kala menatap Arjuna dengan wajah penuh tanya, apakah maksud dari tindakan lelaki ini.

“Fokus, Kala,“ucap lelaki itu pelan dengan suara beratnya.

“Anak saya sampai luka seperti ini, pokoknya saya ga mau tau kalian harus bayar biaya obat-obatannya,“ucap Ibu Saka dengan wajah kesal.

“Bagaimana Pak Dika?”

“Ya sudah, tapi bilang sama anak Ibu jangan ganggu anak perempuan saya lagi, saya gak suka anak perempuan saya di sakiti, apalagi dikatai jual diri. Saya bakalan bayar sesegera mungkin, ini no. Hp saya, anda bisa langsung hubungi saya,“Dika mengulurkan sebuah kertas dengan 12 barisan nomor tertera di sana.

“Oke, saya akan jaga anak saya untuk tidak dekat lagi dengan anak anda. Saka, kamu jangan pacaran lagi sama dia! Mamah sudah bilang kamu itu cocoknya sama neneng, kenapa masih ngeyel!“ujarnya.

“Nina Mah,”

“Ah sama aja,”

“Baiklah, saya harap kalian berempat damai dan gak akan mengulangin hal ini ya, Saka kamu kan kakak kelas dan harusnya fokus belajar bukan pacaran, dan Raka, Abian, Arjuna kalau menyelesaikan masalah jangan pakaikekerasan, ayo minta maaf,”

“Tapi kan—,”

“Minta maaf aja,“ujar Papah sambil tersenyum.

Akhirnya mereka saling berjabat tangan, meski terlihat dipaksakan namun mereka harus melakukan ini. Harap-harap setelah ini tak ada lagi tengkar antara mereka.

..........

“Nelpon siapa Jun?“tanya Abian.

“Oh ini, gue mau laporan sama bokap kalo masalahnya udah kelar, jadi gak usah ke sini,“jawab Arjuna.

Abian hanya ber oh ria.

“Cantik ya guru kamu,“goda Papah pada Kala, ia tau anak gadisnya itu pasti langsung nyolot kalo Papah genit dengan perempuan lain kecuali Mamahnya.

“Papah!”

Dika tertawa, ia mengacak-acak rambut putrinya,“Hahahah, Papah gak suka kok, tapi gak tau nanti.”

“Nah kan....,”

“Yaudah Papah pulang ya, baik-baik kamu sama abang di sekolah. Oh iya Arjuna....,”

“Iya ada apa Om?”

“Kamu suka sama Kala ya?”

“Papah apaan?!”

“Kala salting Pah,“ujar Raka.

“Papah ke kantor ya, bentar lagi Papah mau rapat, bye! Nanti Papah pulang cepet!” Lelaki itu berlari kecil sambil melambaikan tangannya ke arah mereka.

Saka tengah memasang badan di depan kelas Rakandra, Abian dan Arjuna. Hanya seorang diri tanpa komplotannya satu pun.

“Keluar lo bertiga!“teriakan Saka membuat siswa lain ketakutan.

Ketiga pria yang sedari tadi asik sendiri berbalik ketika Saka memanggil mereka.

“Ngapain sih si jamet?“ujar Bian menyenggol Arjuna dengan sikutnya pelan.

“Ayo keluar,“Rakandra mengkode Bian dan Arjuna untuk segera beranjak menghampiri Saka.

Abian menatap Saka tajam, ia benar-benar tak suka kehadiran lelaki ini,“Ngapain sih lo?“ujarnya dengan nada kesal.

“Lo bertiga kok bisa sedeket itu sama Kala? Lo gak tau dia itu siapa? Dia P-A-C-A-R gue,“ujar Saka dengah penuh penekanan.

“Ya gue sih tau kalo lo pacarnya,”

“Terus?”

“Terus, terus, kayak tukang parkir aja,“sewot Arjuna.

“Jadi menurut lo muka gue mirip tukang parkir? Iya?!”

“Gue gak bilang gitu ya, lo sendiri yang mendetailkan,“ucap Arjuna.

Rakandra memutar bola matanya,“Kalo Kala deket sama kita, lo juga gak berhak ngelarang, lo siapa? Abangnya bukan, keluarga juga bukan, jangan pikir karena lo pacarnya lo bisa ngatur dia seenaknya.”

“Dibayar pake apa lo sama Kala?”

Abian mengernyitkan Alisnya,“Maksud lo apaan ngomong kayak gitu?”

“Kala jual diri ya, makanya lo berdua belain dia? Gila tu cewek,”

Bugh!

Satu bogeman melayang tepat di pipi kanan Saka. Abian menatap lelaki itu penuh emosi yang membara. Ia benar-benar tak segan memukul lelaki itu di depan kelasnya yang membuat para siswa lain berteriak.

“COBA ULANGIN PERKATAAN LO!“bentakkan Abian membuat semuanya tersenyap, Saka meringis lalu memberikan senyum miring padanya.

“Lo kira lo doang yang bisa nonjok? Gue juga bisa kali,”

Bugh!

Pukulan itu mengenai perut Abian, begitu cepat sehingga ia tak bisa menghindar. Arjuna segera membantu Abian yang tersungkur akibat pukulan keras dari Saka.

Sret!

Rakandra menarik kerah Saka,“Mulut lo gak pernah sekolah, ya? Kalo cewek udah gak nyaman sama lo artinya lo harus tau di mana letak masalahnya, bukan ngatain kayak gitu! Kalo lo suka sama Kala lo gak akan bilang kayak gitu, brengsek lo emang, met!”

Bugh! Bugh!

Adu jotos pun terjadi antara mereka. Siswa lain mulai melerai. Sempat kewalahan namun keributan itu segera berakhir ketika para guru mulai bertindak saat itu.

Kala mendudukkan dirinya tepat di samping kanan Arjuna. Sedangkan Cici dan Olin mengikuti dengan duduk sejajar di samping Kala.

“Kal,” Arjuna menyenggol sikut Kala pelan.

“Apaan,”

Kala menelan ludahnya kasar ketika wajah Arjuna hanya berjarak lima senti di depannya. Berusaha tetap tenang gadis itu mencoba menatap kedua iris coklat milik lelaki itu dengan jantung berdebar.

“Jamet udah gak menarik ya?“napas Arjuna menyapu lembut pipi Kala.

“Menurut lo?“sewot Kala.

“HEH! ASTAGFIRULLAH ARJUNA,“Rakandra histeris ketika menyadari betapa dekatnya jarak dua insan ini.

“Jangan pikir karena Adek gue mau putus sama si jamet, lo seenaknya kayak gini, macem macem gue bacok lo,“ucap Rakandra pelan namun masih terdengar oleh Cici dan Olin.

“Kal? Dia bercanda ya?“tanya Olin.

Kala tersenyum,“Gue bisa jelasin, oke? Kalian boleh marah sama gue karena gue gak ngasih tau masalah sebesar ini, cuman please dengerin penjelasan gue nanti aja, oke?”

Cici dan Olin memilih mengiyakan, mereka tak marah.

“Ya emang kenapa sih kalo gue suka sama adek lo?”

Rakandra dan Arjuna masih berdebat sedangkan Abian tengah menatap Cici, terpesona.

“Denger ya, gue gak mau adek ipar galak kayak lo,“ujar Rakandra.

“Kalo soal galak mah udah dari zigot, Raka, mana bisa diubah,“sanggah Arjuna.

//

“Eh kita cabut ya, kayaknya si Jamet gak ke sini deh, tenang aja nanti abang sikat kalo dia macem macem,“ucap Abian.

“Ck! Iya sana,“ujar Kala.

Ketiga lelaki itu pergi meninggalkan mereka bertiga yang kini masih terdiam.

“Jadi....mereka bertiga abang lo?“tanya Cici.

“Cuman Rakandra sama Abian, Arjuna kan anak tunggal kaya raya, ngapain papah gue adopsi,“jawab Kala.

“Jadi dua cowok yang ikut sama mobil lo itu, Raka sama Bian?“tanya Olin.

“Kok lo gak cerita!“kata Cici.

“Gue kan kiranya salah liat, ternyata beneran,” “Gimana rasanya punya abang kayak mereka Kal?”

“E....gak tau, karena kita belum sedekat kakak adik kayak orang lain, gue belum bisa deskripsiin mereka dengan jelas,“jawab Kala.

“Kalo di liat-liat, mereka itu memang jail sih Kal tapi mereka gak pernah kan nyusahin lo, paling adu mulut doang, cocok sih lo jadi adek mereka biar akrab!”

“Gitu?”

Cici dan Olin mengangguk.

Dari kejauhan terlihat Nina dan Saka saling melempar senyum, gadis berambut pirang dengan lekukan tubuh yang cukup bagus itu sepertinya benar-benar menarik perhatian Saka. Kala yang tadi ingin memarahi Saka karena telah membuat Arjuna terjatuh langsung teralihkan gara gara kehadiran Nina.

“Dih dih, kecentilan banget tu cewek, cakepan juga gue kalo di liat-liat,“ucap Kala.

“Ngapain lo?“suara itu mengejutkan Kala.

“Ayam! Ajg! Ngagetin aja,“Kala memukul bahu pria itu keras dan membuat Arjuna meringis.

“Sakit Kala,”

“Syukurin!“timpal Kala.

“Ngeliatin apa sih?“tanya Juna.

“Kak Saka, noh lagi sama si Nina,“jawab Kala.

“Ck! Dah jamet kebangetan, brengsek pula, masa cewek secantik lo di selingkuhin, wah sengklek tuh otaknya,“Juna menggelengkan kepalanya sambil menatap Saka.

Kala memandang Arjuna dengan tatapan tak percaya, wajah gadis itu semerah tomat ketika mendengar perkataan lelaki ini.

“Jadi gue cakep?“tanya Kala mencoba memastikan kembali.

“Cewek kan emang cantik, ya kalo ganteng cowok namanya,“ujar Arjuna.

Kala mencubit lengan Arjuna.

“Sakit woy! Anjir!“Arjuna mengelus lengannya.

Kala mendengus kesal, gadis itu memilih pergi dan meninggalkan Arjuna yang kini tengah menahan diri karena tingkah Kala membuatnya gemas.

........

“Sayang ih kamu gak pernah ke kelas aku lagiiii,“ujar Nina sambil mengerucutkan bibirnya.

“Ohhhh jadi bener ya kak ada apa apa sama ni cewek,“Kala menyilangkan kedua tangannya di dada.

“E-eh, gak kok yank, dia ngaku-ngaku aja ini mah, aku gak ada hubungan apa apa sama dia sumpah!“elak Saka.

Kala memutar bola matanya,“Kak Saka udah gak bisa ngelak, jelas-jelas dia panggil sayang kan tadi, mulai hari ini kita gak ada lagi hubungan apa apa.”

“Eh kok gitu, ayang dia cuman bercanda,“Saka meraih tangan Kala namun gadis itu langsung menepisnya.

“Putus? Ngerti bahasa putus kan? Gak ada hubungan apa apa lagi,“ucap Kala menekan kalimatnya. Setelah mengucapkan itu Kala segera melenggang pergi tanpa mengubris teriakan Saka lagi.

“AYANG!”

Saka beranjak pergi dari lapangan basket. Ia memilih duduk di bawah pohon rindang dengan kawan-kawannya. Mereka tertawa puas karena kemenangan mereka.

“Kak, mau ngomong bentar,”

Saka menoleh dan mendapati sosok Kala. Raut gadis itu tampak kesal, namun Saka abai sebab Kala tak mungkin marah dengannya.

“Apa yank?”

Saka mendekat ke arah Kala.

“Minta maaf sama Arjuna,“pinta gadis itu. Saka mengernyitkan alisnya. Ia tak menyangka Kala datang hanya untuk mengatakan hal itu padanya.

“Buat?”

“Ya tadi Kak Saka main curang, Arjuna kasian,“jawab Kala tegas.

“Kok kamu belain dia? Kamu ada hubungan sama Arjuna?” “Jawab, jangan diem aja,”

Kala menggeleng cepat,“Enggak.”

“Dari kursi penonton tadi, yang kamu liat itu bukan aku tapi Arjuna, kamu suka sama dia?“tanya Saka. “Oh atau kamu mau putus sama aku? Gak bisa, kamu gak akan dimilikin siapa pun kecuali aku.”

“Kak aku...,”

“Sstttt....aku gak mau marah sama kamu, mending kamu pergi main sama temen-temen kamu dan lupain masalah yang tadi,“sela Saka. “Oh satu lagi, inget kita gak akan putus.”

Kala tercengang saat itu. Ingin rasanya ia memukul Saka dengan tangannya.

Tolongin dong, ini gue mau putus ajg! Gue gegayaan banget mau minta putus, ngomong aja kagak berani ajg

Kala mengacak-acak rambutnya, kesal. Sial, kenapa dia malah tak bisa mengatakan putus saat itu juga.

Semua tim sudah berkumpul ditengah-tengah lapangan. Semangat menggebu tersirat dari tatapan mereka. Saka dan teman-temannya memandang remeh geng Raka sebab mereka agak lebih pendek tak sepertinya yang bertubuh besar dengan postur tubuh yang tinggi.

Dikursi penonton Kala tengah menggigit jarinya. Takut jika mereka bukan bermain basket tapi malah baku hantam.

“Gak papa deh dapet cowok freak yang penting kayak Bian sama Raka,“ucap Cici.

“Eh Juna ngeliatin lo mulu njir,”

“Kalo di liat liat Juna emang ganteng sih, cuman ketutupan aja sama nakalnya, Kal lo harus pindah haluan. Tinggalin kak Saka dan pacaran sama Juna, Kal! KALA!”

“Ck! Lo ngomong apaan gue gak denger,“Kala sedari tadi terfokus pada dua tim basket itu, memikirkan bagaimana caranya menahan Saka untuk tak melakukan kekerasan. Entah kenapa ia sepeduli dan sekhawatir ini.

“Santai aja kenapa sih Kal, ini kan cuman tanding biasa,“Oline mencoba menenangkan.

“Gue takut mereka baku hantam sumpah,“ucap Kala.

“Semoga janganlah,“ujar Cici.

.......

Pertandingan di mulai. Raka mulai berlari lincah sambil mendrible bola, mereka bertiga bermain dengan baik. Mengumpan bola ke sana kemari dengan sempurna tanpa memberi kesempatan lawan mereka merebut bola.

Sejauh ini Raka dan teman-teman masih unggul daripada Saka. Tentunya hal ini membuat Saka geram dan membuat rencana agar mereka mengejar point yang kini tertinggal jauh.

Ketika Juna mendekat ke arah ring lawan, saat itulah Saka dan kawan-kawan sengaja menyenggol tubuh lelaki itu dengan kuat. Tentunya Juna langsung jatuh tersungkur, Raka dan Bian yang melihat itu langsung menghampiri temannya.

“Gak papa lo?“tanya Bian.

“Sorry gak sengaja,“ucap Saka.

“Maksud lo apaan kayak gitu!“Raka menarik kerah baju Saka.

Wasit meniup peluitnya, Raka melepas secara kasar genggaman eratnya dari baju Saka. Raka menjelaskan bahwa Saka sengaja melakukan itu pada Juna namun Saka juga terus mengelak bahwa itu hanya ketidaksengajaan. Akhirnya pertandingan tetap dilanjutkan, Juna menepi di lapangan, kakinya sedikit terkilir karena terjatuh tadi.

Ternyata saat itu Raka dan kawan-kawan hilang kefokusan. Mereka lengah dan membuat Saka serta teman-temannya mudah dalam memasukkan bola basket ke dalam ring.

Kala melihat semuanya dari kursi penonton, ternyata Saka sepicik ini. Di tepi lapangan ia melihat Juna tengah memandangi permainan timnya yang sepertinya kehilangan fokus karena dirinya.

“Hadeh pacar lo tuh bikin geleng-geleng,“ujar Olin.

“Kak Saka curang,“komentar Cici.

Kala beranjak dari kursi penonton. Entah apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.

“Kala lo kau kemana?!“teriak Olin.

Kala memeluk Papahnya dengan erat. Rasanya rindu sekali. Dika itu tipe ayah yang selalu ingin dekat dengan anaknya, namun karena terhalang ia jadi susah untuk lebih dekat. Dari dulu sampai sekarang, Kala tak pernah merasakan kurangnya kasih sayang dari sosok ayah sebab Dika memang seperhatian itu pada putrinya.

Di sisi lain Raka dan Bian tengah tersenyum melihat kehangatan keluarga kecil ini, rasanya beruntung sekali memiliki ayah seperti Dika. Mereka pernah tau rasa punya keluarga namun rasa itu seolah bayangan, karena dari usia 6 tahun mereka sudah tak memiliki orang tua.

Dika menyuruh Raka dan Bian mendekat dan memberikan kode untuk memeluknya juga. Keduanya ragu namun Dika membuat rasa ragu itu hilang saat tersenyum.

“Sekarang, Papah udah punya tiga anak, dan Kala harus terima itu, ya. Raka dan Bian itu akan selalu jadi bagian dari kita,“ucap Dika dengan lembut.

..........

Setelah acara peluk-pelukan tadi, ketiga orang ini jadi canggung. Raka, Bian dan Kala berusaha menyibukkan diri mereka masing-masing.

“Gimana sekolah kalian?“tanya Dika.

“Baik Pah,“mereka serentak menjawab.

“Kalian gak berantem kan di sekolah? Kaku banget ngomongnya,“goda Dika diiringi kekehan.

“Berantem sih nggak pah, cuman ni dua orang suka ngeselin,”

“Putus dulu makanya sama si jamet,“kata Bian yang diangguki oleh Raka.

“Nah iya Pah, Papah kan pernah cerita kalo gak suka sama si jamet tapi Kala masih aja pacaran,“Raka mulai memanas-manasi.

“Papah kira kamu udah kapok sama dia gara gara ban bocor di tengah jalan,“ucap Dika.

“KOK PAPAH TAU?”

“Abang kamu yang cerita,“jawab Dika.

Raka dan Bian langsung membuang muka ke arah lain.

“Yaudah sih kalo kamu masih mau pacaran sama dia gak papa, Papah sih gak terlalu ngelarang yang penting sekolah gak terganggu, oh iya, sekarang kalo kemana-mana sama abang, jangan sendiri.“Dika menjeda kalimatnya sejenak, menatap Kala, Bian dan Raka bergantian,“Papah bolehin bawa mobil, soalnya mang asep mau pulang kampung jadi mau gak mau berangkat sendiri.”

“Biar aku Pah yang nyetir,“Raka menawarkan diri.

“Oke, besok Kala harus berangkat sama abang ya?”

“Iya Pah,“Kala mengiyakan. Ia tak bisa ambil pusing.

Raka dan Bian bersorak dalam hati.

“Bawa mobilnya jangan ngebut, awas aja!“ancam Kala.

“Iya, iya,”

Saka melambaikan tangan ke arah Kala dari luar kelas. Gadis itu segera beranjak dari kursinya bersama Olin dan Cici.

“Maunya berdua,“ujar Saka dengan wajah yang sengaja di imut-imutkan. Kala menahan rasa malunya di hadapan beberapa siswa lain yang memperhatikan mereka.

“Mending kita bareng-bareng, lebih seru kak,“ujar Kala.

Saka terlihat kesal, namun lelaki itu memaksakan senyumnya.

......

Di sisi lain Rakandra, Abian dan Arjuna tengah menikmati semangkuk mie ayam buatan Ci Leni yang terkenal juara rasanya di kantin.

” Si jamet dateng tuh sama si Kala,“bisik Rakandra.

Brak!

“Uhuk!”

Saka tiba-tiba memukul meja makan mereka tanpa aba-aba. Ketiga lelaki itu hampir tersedak saat itu.

“Ini meja yang sering gue dudukin bareng temen gue, minggir lo,“ujar Saka dengan wajah sangarnya.

“Cari tempat lain lah, bro. Di sana juga masih kosong,“Raka menunjuk salah satu kursi yang berada di pojok.

“Kalian aja yang pindah,“Saka masih saja tak mau mengalah.

“Pindah apa susahnya sih,“celetuk Kala.

“Ngalah apa susahnya sih,“Rakandara membalas ucapan Kala.

“Kita gak akan pindah, emang lo punya hak apa di sini? Sekolah ini bukan punya lo kan?“ujar Abian.

Prang!

Saka melempar gelas yang berisi es teh manis milik Raka. Ia benar-benar marah. Raka memandang remeh ke arah Saka.

“Lo beneran ngajak berantem?“tanya Raka yang kini siap melayangkan bogemannya ke wajah songong milik Saka.

“Hei! Ngapain kalian?“Pak Tejo datang pada waktu yang tepat sebelum Raka memukul wajah pria di depannya ini.

“Kalian ini ya, seharusnya di sekolah fokus belajar, malah berantem, mau jadi jagoan kalian?“ucap Pak Tejo geram.

.......

Mereka semua berakhir berjemur di lapangan. Kala sejak tadi terus mengeluh karena kakinya pegal, namun Pak Tejo tak kunjung pergi, ia tetap mengawasi mereka semua dengan tatapan tajam.

“Panas banget,“Kala menunduk karena terik sinar matahari terasa membakar ubun-ubunnya.

“Lemah,“ejek Arjuna yang kebetulan berada di samping Kala. Gadis itu hanya berdecak kesal tanpa mengubris perkataannya.

Ketika Pak Tejo lengah saat itu Arjuna berjalan ke depan Kala, entah apa yang ada dipikiran Arjuna saat itu, ia malah melindungi Kala dari terik matahari. Abian dan Rakandra menyadari itu, mereka hampir histeris karena tindakan kecil seorang Arjuna.

“Ngapain lo di depan gue?“tanya Kala.

“Yang jelek di belakang, gue kan ganteng makanya gue di depan,“jawab Arjuna.

Sedangkan Saka sedari tadi berlindung di belakang Kala.

“Cowok apaan takut panas,“Sindir Rakandra.

“Katanya lakik, mana buktinya, lemah banget,“ucap Abian.

Saka hanya melempar tatapan sinis.

Di sela-sela perdebatan kecil antara Raka, Abian dan Saka. Diam diam Kala memandang punggung lebar milik Arjuna. Ia menjadi lebih baik setelah Arjuna berdiri di depannya, setidaknya lebih sejuk.