alkanaaaa

Sean berusaha mencari tempat yang akan membebaskannya dari kejaran Milly. Gadis itu membuatnya harus berkeliling sambil mencari tempat aman dalam kondisi sedang demam.

Oh iya, rooftop, pasti Milly tak akan menemukannya di sana.

Sean menghela nafas lega, namun ia dikejutkan oleh seorang gadis yang sedang berdiri pada pembatas yang ada di rooftop.

“Heh lo mau ngapain?!“Sean menarik lengan gadis itu dengan kuat. Mereka jatuh bersama, dan posisinya membuat ambhigu, Sean berada di bawah dan gadis itu berada di atasnya.

Nafas hangat Sean menyapa lembut di wajah gadis itu, kedua iris coklat Sean membuatnya terpaku sejenak, namun sepersekian detiknya ia langsung bangun.

“Lo mau mati ya?“tanya Sean dengan wajah sebal.

“Enggak, gue cuman mau liat pemandangan dari atas,“ucapnya.

Sean hampir di buat jantungan okeh gadis ini,“Bahaya, lo tau gak sih?”

“Iya tau, tapi gue sering kok kayak gini,“jawabnya. “Terus lo ngapain di sini?”

“Bukan urusan lo,“ketus Sean.

“SEAN! SEAN!”

“Itu kayak suara Milly,“ujar Sheren.

“Sembunyi,“Sean menarik tangan Sheren untuk segera mengikuti ke arah mana ia akan pergi untuk menghindari Milly.

“Ck, perasaan tadi denger ada deh ada di sini,“ucap Milly. Kemudian gadis pergi karena tak menemukan orang yang dia cari.

“Sialan,” desis Sean.

Tautan tangannya dan Sheren masih belum di lepas. Entah karena lupa atau mungkin tangan Sheren nyaman untuk di genggam.

“Udah pergi tuh,“ucap Sheren.“Tangannya gak mau di lepas?”

Sean langsung melepas tautannya,“Maaf gak sengaja.”

“Lo sakit?“tanya Sheren.

“Gak,”

“Tangan lo dingin,“ucap Sheren.

“Gue gak papa,”

Sheren berhenti untuk bertanya soal keadaan Sean, ia beralih kepertanyaan lain,“Tadi kenapa ngehindar dari Milly?”

“Gue males aja sama dia,”

“Males?”

“Ya dia kan punya pacar, otomatis gue risih dia deket deket gue,“jelas Sean. “Udah gue mau cabut, lo masih mau di sini?”

“Iya,“ujar Sheren sambil mengangguk.

“Gue duluan,” Sean segera beranjak dan meninggalkan Sheren sendiri di sana, memandang dari kejauhan hingga punggung lelaki itu menghilang.

Usai istirahat pertama, Sheren bergegas menuju perpustakaan dengan langkah panjang dan terburu-buru. Lorong terlihat sepi karena para siswa lain ada di kantin, Sheren menepis segala pikirannya dan berfokus terhadap ujian prakteknya.

Pintu perpustakaan masih tertutup rapat, ia pikir mungkin masih belum ada orang di dalam, ternyata sudah ada empat cowok yang tengah duduk di meja sambil menatap ke arahnya.

Sheren merasa menjadi artis dadakan ketika para cowok itu menoleh ke arahnya.

“Sher!“salah satu dari mereka melambaikan tangan dengan senyuman ramah kepada Sheren. Reno, orangnya.

“Sini kumpul bareng kita, jangan menyendiri,“ucap Reno tanpa ragu.

Sheren segera menurut dan menduduki kursi yang berada di samling kanan Reno. Selain Reno, Helga ternyata menyambutnya dengan senyuman hangat dan Sheren membalasnya dengan senyum hangatnya juga.

“Jadi lo juga gak ikut ujian praktek?“tanya Reno.

“Iya, gara gara telat,“jawab Sheren.“Kalau lo semua karena apa?”

“Gue karena sakit,“ujar Helga.

“Alah sakit apaan coba lu?“tanya Reno.

“Sakit beneran lah ege,“ungkap Helga.

“Wah sudah kumpul semua, gimana? Sudah siap?“tanya Bu Riza.

“Siap Bu!“jawab mereka dengan serempak.

........

Akhirnya mereka menyelesaikan ujian prakteknya dengan baik. Ibu Riza sudah pamit duluan karena ada urusan mendadak lagi, kini hanya mereka yang ada di perpustakaan.

“Sher, lo ketua basket cewek kan?“tanya Helga.

Sheren mengangguk dan menjawab,“Iya.”

“Kenal Sean?“tanya Reno.

Sheren menggeleng. Saat itu juga tawa Reno dan Helga pecah, bisa bisanya seorang ketua basket sekaligus mantan model humas, Sheren tidak mengenalnya.

Sean yang sedari tadi diam hanya bisa mendengus kesal karena jawaban Sheren, memang dia kemana saja sampai Sean tidak di kenalnya.

“Masa sih Sher gak tau? Ini loh ketua Basket cowok dan dia juga mantan model humas bareng Milly,“jelas Reno.

“Oh gue tau kalo dia orangnya cuman gak tau siapa namanya,“ujar Sheren polos.

“Lo gak tau nama gue?“Sean mulai bersuara.

Sheren mengangguk pelan.

“Kenalin gue Sean Putra Alvaro, ketua basket cowok,“ujar cowok itu sambil mengulurkan tangannya.

“Sheren,”

“Sher, kalo yang ini kenal?“tanya Reno yang merangkul Setra.

“Iya kenal, soalnya dulu pernah memang olimp gitu kan? Gue juga suka liat vlog vlog dia diyt, seru banget sumpah!“ujar Sheren antusias.

Setra tersenyum hangat,“Makasih ya udah nonton.”

“Lu goblok sih makanya gak terkenal,“bisik Reno kepada Sean.

“Bacot,“balas Sean.

Alea masih terngiang tentang chat yang Gabriel kirim, terlihat sederhana namun tersimpan luka.

Ia tak mampu melawan rasa gemuruh yang menghantuinya, mungkin Alea juga rindu tentang kebersamaan antara mereka.

Perlahan ia menuruni anak tangga, atensinya teralih pada sosok Gabriel yang kini tengah menyusun makanan di atas meja. Terlihat lezat dan menggiurkan.

“Eros, cepetan bawa makanannya,“teriak Gabriel.

Suasana riuh yang dibuat okeh kedua cowok ini tiba-tiba senyap ketika melihat Alea menghampiri meja makan lalu duduk, tanpa mengatakan sepatah kata pun.

“Alea...,”

Eros dan Gabriel mematung di tempat, mereka bingung harus bereaksi apa, rasa haru dan senang bercampur jadi satu. Mereka langsung duduk di sebelah kanan dan kiri Alea.

Tak tanggung-tanggung kedua berebut mengambilkan Alea lauk pauk yang ada di atas meja.

“Alea harus makan yang banyak!“ucap Eros antusias.

“Makan sayur juga, supaya sehat,“ujar Gabriel.

Alea menelan suapan pertamanya, rasanya sedikit hambar namun Alea tak protes.

“Enak?“tanya Eros.

Alea membalas dengan anggukan singkat.

“Alea, kayaknya agak hambar deh...,“ujar Gabriel.

“Nah kan! Gue udah bilang kalo garemnya kedikitan, lo gak percaya sama gue,“ujar Eros protes.

“Apaan kok salah gue, kan lo yang bilang kalo udah oke rasanya,“Gabriel tak mau kalah.

“Makan pun gue harus denger kalian adu bacot?“ujar Alea.

“Maafin abang ya,”

“Alea, sering-sering gini ya,“ujar Eros.

”.......”

“Alea, gue bahagia banget lo bisa makan bareng sama kita,“ucap Gabriel lembut.

Tak ada sepatah kata yang keluar dari bibir Alea, yang ada hanya rasa sesak di hati kecilnya.

makan malam

#makan malam#

Permintaan Gabriel seolah terus memutar di benaknya. Alea merasakan gemuruh yang berasal dari hatinya, suasana aneh ia rasakan.

Terbayang olehnya akan seberapa canggung dirinya jika semeja makan bersama dua orang yang kini ia anggap asing sekali.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, ia melihat Gabriel tengah menyusun piring di atas meja dengan rapi.

Dengan langkah pelan ia mendekati kakaknya, Gabriel belum menyadari kehadiran Alea. Cowok itu masih sibuk menyusun piring dan sendok.

Tanpa suara, Alea duduk di kursi. Gabriel yang sedari asik dengan kegiataannya langsung mematung melihat Alea duduk di meja makan tepat di depan.

“Alea...,”

Alea menatap Gabriel,“Kenapa?”

Cowok itu tersenyum dan segera menggelengkan kepalanya.

“Makanannya udah—,“Eros tak kalah kaget. Cowok itu hampir menumpahkan satu panci sup buatan Gabriel.

Alea jadi bingung dengan keberadaannya, ia merasa tak enak dengan suasana ini.

Eros segera menaruh makanan di meja dengan cepat dan begitu bersemangat. Gabriel sampai heran dibuatnya.

“Pelan-pelan lo bawanya, nanti jatoh,“tegur Gabriel.

“Alea mau makan apa? Ini semua buatan gue tapi dibantu juga sama Eros, atau lo mau gue pesenin makanan yang lai—,”

“Gak usah, ini aja,“terdengar datar namun Gabriel senang atas jawaban Alea.

“Alea, suka yang mana? Abang ambilin ya,“ujar Eros.

Alea hanya diam dan Eros mengambilkan beberapa lauk untuk adiknya. Gabriel jadi gugup sekarang, ia takut masakannya tak enak dan membuat makan bersama ini jad kacau balau.

“Alea mau nambah lagi?“tawar Eros.

“Gue bisa sendiri, lo juga makan,“ujar Alea tanpa menatap Eros.

“Oke!”

Malam penuh kecanggungan, juga penuh kebahagian untuk dua cowok ini.

Alea memulai suapan pertamanya, rasanya lumayan enak walau sedikit hambar. Sedari tadi Alea tak ingin menatap Eros dan Gabriel, kenapa? Matanya sudah berkaca-kaca, ia tidak mengerti kenapa ia jadi seemosional ini, padahal ia jarang menangis.

“Alea, maaf ya kalo makanannya gak enak, nanti abang belajar lagi,“ucap Gabriel sambil terkekeh.

“Semua makanan jadi enak banget, kalo ada Alea,“celetuk Eros.

Tak!

“Gue udah selesai, makasih makanannya,”

Setelah mengucapkan itu Alea beranjak dari sana. Bukannya kenapa, tapi mendengar semua perkataan dua orang itu, dadanya jadi sesak dan susah menelan makanannya.

Cewek itu baru saja menghubungi temannya untuk bertemu di cafe. Dengan terburu-buru Valen memarkirkan mobilnya dan berhasil membuat bunyi gesekan yang menimbulkan jejak baret.

Ia meringis ketika melihat goresan apik di sisi mobil yang ia tabrak.

“Gila, gue nabrak mobil siapa nih,“Valen panik sendiri sekarang. Gara gara tak fokus, ia malah membuat kerugian bagi orang lain.

Alih alih ingin kabur, ternyata ketika ia memundurkan mobilnya ia malah menubruk mobil lainnya lagi. Teriakan pengemudi mobil yang ia tabrak itu membuatnya takut untuk turun, namun dengan segala kegugupannya ia memberikan nomor ponselnya pada pengemudi itu, Valen bilang bahwa ia sedang terburu-buru dan jika bapak itu meminta ganti rugi, ia bisa menghubungi Valen. Walau masih marah pria paruh baya itu mengangguk setuju.

“Valen lo sial banget hari ini,“gumamnya.

Moodnya hilang untuk menemui Nila, padahal ia ingin bercerita pasal ayahnya yang setiap hari selalu menuntutnya untuk menikah, lalu membandingkan dirinya dengan adik atau tantenya.

...........

Di sisi lain lagi, seorang cowok tengah berdecak kesal atas kacaunya hubungannya dengan sang kekasih. Hari ini ia mendapat kabar bahwa pacarnya sudah menikah dengan lelaki lain. Dan dirinya bingung harus bagaimana. Padahal rencananya ia akan menikah bulan ini, namun takdir tak berpihak pada dirinya.

“Argh!”

Baru saja ia ingin menendang ban mobilnya, namun segera ia sadar bahwa mobilnya baret. Ia semakin kesal. Memaki tanpa ampun di sana, entah sudah berapa nama hewan yang ia sebut karena melampiaskan kemarahannya.

“Kenapa mas?“tanya pria paruh baya itu.

Cowok itu menghela nafas panjang,“Mobil saya baret, Pak. Bapak liat gak tadi siapa pelakunya?”

“Oh iya, mungkin anak gadis yang tadi, mobil saya juga penyok sedikit di depannya, untungnya dia masih mau tanggung jawab, masnya hubungin nomor telepon ini aja,“pria itu memberikannya sebuah nomor ponsel, tak lama setelah itu orang itu pergi.

“Lo mau ke mana?“tanya Lintang yang kini menahan lengan cowok itu.

“Mau ke toilet, posesif amat sih lo, bini gue juga bukan,“tutur langit.

“Cepet,“ujar Lintang.

“Iya,”

Suara bising membuat Langit tak nyaman dengan suasana yang ada di ruangan ini, apalagi beberapa gadis sempat banyak yang mengerumuni. Cowok itu menyesal karena tak menolak ajakan kedua temannya ini, Dewa dan Lintang.

Ia memutar keran wastafel dan segera membasuh wajahnya, rasanya begitu segar. Alih alih sedang bercermin, Langit terusik akibat suara bentakkan dari toilet yang berada di sebelahnya.

Awalnya ia tak peduli dan melanjutkan aksi pamer wajahnya di cermin, namun suara tamparan membuatnya tersentak dan mulai penasaran dengan apa yang terjadi di sana.

......

“Lo ngapain sama Dika? Pakai meluk meluk segala, lo mau selingkuh?“tanya Hema dengan nada membentak.

“Terserah lo deh, gue udah capek jelasin tapi lo masih aja gak percaya sama gue,“jawab Valda dengan nada tegasnya.

Hema menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia merogoh ponselnya dan menampilkan sebuah dua orang yang sedang berciuman.

“I-itu...,”

“Ini apa? Lo ciuman sama Dika di cafe, lo selingkuh kan?“Hema mengepalkan tangannya hingga uratnya terlihat.

“JAWAB!“kali ini bentakkan Hema membuat Valda menciut.

Gadis itu gemetar dan ketakutan saat itu juga. Sebenarnya sudah lama Valda ingin memutuskan hubungannya ini dengan Hema, tapi cowok itu selalu mengelak dan mengancam Valda dengan berbagai hal agar tak di putuskan. Lalu setelah ada Dika, Valda jadi sedikit tenang dan kerap diam-diam bersamaan dengan selingkuhannya itu.

Naas ternyata hubungan keduanya ketahuan oleh Hema dan membuat cowok itu marah besar.

“Gue udah bosen sama lo,“ucap Valda dengan nada ketakutan.

Hema tertawa getir mendengar penuturan dari Valda,“Lo masih punya gue, Val. Dika udah gue beresin karena dia udah berani deketin lo.”

Yang tadinya Valda menunduk, gadis itu langsung menatap kedua iris coklat milik Hema dengan tatapan terkejut.

“L-lo habis ngapain dia, Hema?!“bentak Valda dengan berderai air mata.

Hema menundukkan tubuhnya, berusaha menatap Valda lebih dekat. Cowok itu tersenyum, kemudian mengangkat perlahan tangannya dan membuat gerakan seperti memotong lehernya dengan jari telunjuk. Valda paham dengan maknanya langsung histeris dalam hitungan detik.

“LO GILA, BRENGSEK LO HEMA! COWOK PSIKOPAT! DASAR BAJINGAN! COWOK SETAN! ANJ—,”

PLAK!

Suara tamparan itu menggema di ruangan. Tamparan keras dari Hema berhasil membuat cetakan merah di pipi mulus Valda.

“Lo gak akan pernah lepas dari gue Val, kemana pun lo pergi gue akan tetap cari lo,“peringat Hema pada Valda.

“Hema lo!“suara Valda tertahan saat itu.

“Apa? Mau gue tampar lagi?”

Baru saja Hema ingin melayangkan satu tamparan lagi untuk Valda aksinya langsung di cekal seseorang. Sipa lagi kalau bukan Langit, orang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka dan tergerak untuk ikut campur dalam urusan kedua insan ini.

“Kalo sama cewek jangan kasar dong bro,“ujar Langit.

Valda terkejut akan kehadiran sosok Langit yang tiba-tiba datang dan menolongnya dari perlakuan kasar Hema.

“Lo siapa? Selingkuhan dia juga?“tanya Hema dengan senyum smirknya.

Langit tersenyum,“Gue cuman gak sengaja denger lo berantem sama dia dan gue sebagai orang yang punya hati jelas gak bisa biarin lo nyakitin perempuan, bro dewasa dong, kalo ada masalah bicarain baik-baik jangan main fisik.”

“Lo siapa sih? Ceramah ngang gong ngang ngong, kalo lo gak tau masalahnya mending cabut!“perintah Hema.

“Gak bisa, gue gak bisa biarin bajingan kayak lo,“tutur Langit.

Valda merasa ada getaran yang membuncah dalam dirinya. Langit benar-benar membuatnya terpukau dalam satu waktu, perhatian cowok itu berhasil membuat Valda nyaman.

“Lo ngajak ribut?“tantang Hema.

“Ayok aja sih, gue jarang ribut sama orang tapi karena lo maksa, gue bakal ladenin,“Langit memamerkan otot-otot lengannya pada Hema. Laki-laki itu sedikit ciut karena proporsi tubuh langit yang terlihat atletis.

Hema menggeram dan langsung pergi dari tempat itu. Valda merasakan lega walau ia tau Hema tak akan tinggal diam.

Langit memastikan Hema benar-benar pergi, atensinya beralih pada Valda yang masih gemetaran di sampingnya.

“Cowok lo udah cabut, mending lo pulang, tempat ini bahaya,“ucap Langit.

“Anterin,“ujarnya pada Langit.

“Gak bisa, atau mau gue pesenin taxi online?“tawar Langit.

“Gak mau, gue mau pulang sama lo,“kukuh Valda.

“Gue gak bisa, lo gak budek kan? Besok ke THT deh kalo beneran budek ya,”

“Gue takut kalo Hema ngikutin gue lagi,“cicit Valda.

“Ya lo telpon orang rumah lo biar di jemput,“saran Langit.

Valda menggeleng,” Orang rumah semuanya pasti udah tidur.”

“Yaudah taxi online,”

“Kali ini aja.....gue masih gemeteran gara-gara Hema,“ucap Valda memelas.

“Ck! Oke, gue anter,”

yes“batin Valda.

“Lo mau ke mana?“tanya Lintang yang kini menahan lengan cowok itu.

“Mau ke toilet, posesif amat sih lo, bini gue juga bukan,“tutur langit.

“Cepet,“ujar Lintang.

“Iya,”

Suara bising membuat Langit tak nyaman dengan suasana yang ada di ruangan ini, apalagi beberapa gadis sempat banyak yang mengerumuni. Cowok itu menyesal karena tak menolak ajakan kedua temannya ini, Dewa dan Lintang.

Ia memutar keran wastafel dan segera membasuh wajahnya, rasanya begitu segar. Alih alih sedang bercermin, Langit terusik akibat suara bentakkan dari toilet yang berada di sebelahnya.

Awalnya ia tak peduli dan melanjutkan aksi pamer wajahnya di cermin, namun suara tamparan membuatnya tersentak dan mulai penasaran dengan apa yang terjadi di sana.

......

“Lo ngapain sama Dika? Pakai meluk meluk segala, lo mau selingkuh?“tanya Hema dengan nada membentak.

“Terserah lo deh, gue udah capek jelasin tapi lo masih aja gak percaya sama gue,“jawab Valda dengan nada tegasnya.

Hema menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia merogoh ponselnya dan menampilkan sebuah dua orang yang sedang berciuman.

“I-itu...,”

“Ini apa? Lo ciuman sama Dika di cafe, lo selingkuh kan?“Hema mengepalkan tangannya hingga uratnya terlihat.

“JAWAB!“kali ini bentakkan Hema membuat Valda menciut.

Gadis itu gemetar dan ketakutan saat itu juga. Sebenarnya sudah lama Valda ingin memutuskan hubungannya ini dengan Hema, tapi cowok itu selalu mengelak dan mengancam Valda dengan berbagai hal agar tak di putuskan. Lalu setelah ada Dika, Valda jadi sedikit tenang dan kerap diam-diam bersamaan dengan selingkuhannya itu.

Naas ternyata hubungan keduanya ketahuan oleh Hema dan membuat cowok itu marah besar.

“Gue udah bosen sama lo,“ucap Valda dengan nada ketakutan.

Hema tertawa getir mendengar penuturan dari Valda,“Lo masih punya gue, Val. Dika udah gue beresin karena dia udah berani deketin lo.”

Yang tadinya Valda menunduk, gadis itu langsung menatap kedua iris coklat milik Hema dengan tatapan terkejut.

“L-lo habis ngapain dia, Hema?!“bentak Valda dengan berderai air mata.

Hema menundukkan tubuhnya, berusaha menatap Valda lebih dekat. Cowok itu tersenyum, kemudian mengangkat perlahan tangannya dan membuat gerakan seperti memotong lehernya dengan jari telunjuk. Valda paham dengan maknanya langsung histeris dalam hitungan detik.

“LO GILA, BRENGSEK LO HEMA! COWOK PSIKOPAT! DASAR BAJINGAN! COWOK SETAN! ANJ—,”

PLAK!

Suara tamparan itu menggema di ruangan. Tamparan keras dari Hema berhasil membuat cetakan merah di pipi mulus Valda.

“Lo gak akan pernah lepas dari gue Val, kemana pun lo pergi gue akan tetap cari lo,“peringat Hema pada Valda.

“Hema lo!“suara Valda tertahan saat itu.

“Apa? Mau gue tampar lagi?”

Baru saja Hema ingin melayangkan satu tamparan lagi untuk Valda aksinya langsung di cekal seseorang. Sipa lagi kalau bukan Langit, orang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka dan tergerak untuk ikut campur dalam urusan kedua insan ini.

“Kalo sama cewek jangan kasar dong bro,“ujar Langit.

Valda terkejut akan kehadiran sosok Langit yang tiba-tiba datang dan menolongnya dari perlakuan kasar Hema.

“Lo siapa? Selingkuhan dia juga?“tanya Hema dengan senyum smirknya.

Langit tersenyum,“Gue cuman gak sengaja denger lo berantem sama dia dan gue sebagai orang yang punya hati jelas gak bisa biarin lo nyakitin perempuan, bro dewasa dong, kalo ada masalah bicarain baik-baik jangan main fisik.”

“Lo siapa sih? Ceramah ngang gong ngang ngong, kalo lo gak tau masalahnya mending cabut!“perintah Hema.

“Gak bisa, gue gak bisa biarin bajingan kayak lo,“tutur Langit.

Valda merasa ada getaran yang membuncah dalam dirinya. Langit benar-benar membuatnya terpukau dalam satu waktu, perhatian cowok itu berhasil membuat Valda nyaman.

“Lo ngajak ribut?“tantang Hema.

“Ayok aja sih, gue jarang ribut sama orang tapi karena lo maksa, gue bakal ladenin,“Langit memamerkan otot-otot lengannya pada Hema. Laki-laki itu sedikit ciut karena proporsi tubuh langit yang terlihat atletis.

Hema menggeram dan langsung pergi dari tempat itu. Valda merasakan lega walau ia tau Hema tak akan tinggal diam.

Langit memastikan Hema benar-benar pergi, atensinya beralih pada Valda yang masih gemetaran di sampingnya.

“Cowok lo udah cabut, mending lo pulang, tempat ini bahaya,“ucap Langit.

“Anterin,“ujarnya pada Langit.

“Gak bisa, atau mau gue pesenin taxi online?“tawar Langit.

“Gak mau, gue mau pulang sama lo,“kukuh Valda.

“Gue gak bisa, lo gak budek kan? Besok ke THT deh kalo beneran budek ya,”

“Gue takut kalo Hema ngikutin gue lagi,“cicit Valda.

“Ya lo telpon orang rumah lo biar di jemput,“saran Langit.

Valda menggeleng,” Orang rumah semuanya pasti udah tidur.”

“Yaudah taxi online,”

“Kali ini aja.....gue masih gemeteran gara-gara Hema,“ucap Valda memelas.

“Ck! Oke, gue anter,”

yes“batin Valda.

#clubbing#

“Lo mau ke mana?“tanya Lintang yang kini menahan lengan cowok itu.

“Mau ke toilet, posesif amat sih lo, bini gue juga bukan,“tutur langit.

“Cepet,“ujar Lintang.

“Iya,”

Suara bising membuat Langit tak nyaman dengan suasana yang ada di ruangan ini, apalagi beberapa gadis sempat banyak yang mengerumuni. Cowok itu menyesal karena tak menolak ajakan kedua temannya ini, Dewa dan Lintang.

Ia memutar keran wastafel dan segera membasuh wajahnya, rasanya begitu segar. Alih alih sedang bercermin, Langit terusik akibat suara bentakkan dari toilet yang berada di sebelahnya.

Awalnya ia tak peduli dan melanjutkan aksi pamer wajahnya di cermin, namun suara tamparan membuatnya tersentak dan mulai penasaran dengan apa yang terjadi di sana.

......

“Lo ngapain sama Dika? Pakai meluk meluk segala, lo mau selingkuh?“tanya Hema dengan nada membentak.

“Terserah lo deh, gue udah capek jelasin tapi lo masih aja gak percaya sama gue,“jawab Valda dengan nada tegasnya.

Hema menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia merogoh ponselnya dan menampilkan sebuah dua orang yang sedang berciuman.

“I-itu...,”

“Ini apa? Lo ciuman sama Dika di cafe, lo selingkuh kan?“Hema mengepalkan tangannya hingga uratnya terlihat.

“JAWAB!“kali ini bentakkan Hema membuat Valda menciut.

Gadis itu gemetar dan ketakutan saat itu juga. Sebenarnya sudah lama Valda ingin memutuskan hubungannya ini dengan Hema, tapi cowok itu selalu mengelak dan mengancam Valda dengan berbagai hal agar tak di putuskan. Lalu setelah ada Dika, Valda jadi sedikit tenang dan kerap diam-diam bersamaan dengan selingkuhannya itu.

Naas ternyata hubungan keduanya ketahuan oleh Hema dan membuat cowok itu marah besar.

“Gue udah bosen sama lo,“ucap Valda dengan nada ketakutan.

Hema tertawa getir mendengar penuturan dari Valda,“Lo masih punya gue, Val. Dika udah gue beresin karena dia udah berani deketin lo.”

Yang tadinya Valda menunduk, gadis itu langsung menatap kedua iris coklat milik Hema dengan tatapan terkejut.

“L-lo habis ngapain dia, Hema?!“bentak Valda dengan berderai air mata.

Hema menundukkan tubuhnya, berusaha menatap Valda lebih dekat. Cowok itu tersenyum, kemudian mengangkat perlahan tangannya dan membuat gerakan seperti memotong lehernya dengan jari telunjuk. Valda paham dengan maknanya langsung histeris dalam hitungan detik.

“LO GILA, BRENGSEK LO HEMA! COWOK PSIKOPAT! DASAR BAJINGAN! COWOK SETAN! ANJ—,”

PLAK!

Suara tamparan itu menggema di ruangan. Tamparan keras dari Hema berhasil membuat cetakan merah di pipi mulus Valda.

“Lo gak akan pernah lepas dari gue Val, kemana pun lo pergi gue akan tetap cari lo,“peringat Hema pada Valda.

“Hema lo!“suara Valda tertahan saat itu.

“Apa? Mau gue tampar lagi?”

Baru saja Hema ingin melayangkan satu tamparan lagi untuk Valda aksinya langsung di cekal seseorang. Sipa lagi kalau bukan Langit, orang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka dan tergerak untuk ikut campur dalam urusan kedua insan ini.

“Kalo sama cewek jangan kasar dong bro,“ujar Langit.

Valda terkejut akan kehadiran sosok Langit yang tiba-tiba datang dan menolongnya dari perlakuan kasar Hema.

“Lo siapa? Selingkuhan dia juga?“tanya Hema dengan senyum smirknya.

Langit tersenyum,“Gue cuman gak sengaja denger lo berantem sama dia dan gue sebagai orang yang punya hati jelas gak bisa biarin lo nyakitin perempuan, bro dewasa dong, kalo ada masalah bicarain baik-baik jangan main fisik.”

“Lo siapa sih? Ceramah ngang gong ngang ngong, kalo lo gak tau masalahnya mending cabut!“perintah Hema.

“Gak bisa, gue gak bisa biarin bajingan kayak lo,“tutur Langit.

Valda merasa ada getaran yang membuncah dalam dirinya. Langit benar-benar membuatnya terpukau dalam satu waktu, perhatian cowok itu berhasil membuat Valda nyaman.

“Lo ngajak ribut?“tantang Hema.

“Ayok aja sih, gue jarang ribut sama orang tapi karena lo maksa, gue bakal ladenin,“Langit memamerkan otot-otot lengannya pada Hema. Laki-laki itu sedikit ciut karena proporsi tubuh langit yang terlihat atletis.

Hema menggeram dan langsung pergi dari tempat itu. Valda merasakan lega walau ia tau Hema tak akan tinggal diam.

Langit memastikan Hema benar-benar pergi, atensinya beralih pada Valda yang masih gemetaran di sampingnya.

“Cowok lo udah cabut, mending lo pulang, tempat ini bahaya,“ucap Langit.

“Anterin,“ujarnya pada Langit.

“Gak bisa, atau mau gue pesenin taxi online?“tawar Langit.

“Gak mau, gue mau pulang sama lo,“kukuh Valda.

“Gue gak bisa, lo gak budek kan? Besok ke THT deh kalo beneran budek ya,”

“Gue takut kalo Hema ngikutin gue lagi,“cicit Valda.

“Ya lo telpon orang rumah lo biar di jemput,“saran Langit.

Valda menggeleng,” Orang rumah semuanya pasti udah tidur.”

“Yaudah taxi online,”

“Kali ini aja.....gue masih gemeteran gara-gara Hema,“ucap Valda memelas.

“Ck! Oke, gue anter,”

yes batin Valda.